Faktor Penyebab Penurunan Laba
Menurut laporan resmi perusahaan, penurunan laba ini sebagian besar disebabkan oleh meningkatnya persaingan dari maskapai lain, terutama Air India. Maskapai nasional India ini mulai memperluas jaringan internasionalnya secara agresif, sehingga mengurangi pangsa pasar Singapore Airlines di beberapa rute utama.
Selain itu, biaya bahan bakar yang melonjak dan fluktuasi nilai tukar mata uang turut memperberat kondisi keuangan maskapai asal Singapura ini. Kendala ini membuat pendapatan operasional menurun secara signifikan, meskipun permintaan penerbangan secara umum tetap stabil.
Langkah Strategis dan Rencana Masa Depan
Untuk mengatasi kondisi ini, Singapore Airlines berencana melakukan penyesuaian tarif dan mengefisiensikan operasinya. Perusahaan juga akan meningkatkan layanan pelanggan dan memperluas jaringan rute baru guna mempertahankan daya saing di pasar global.
Sementara itu, Air India terus memperkuat posisi dengan menambah armada baru dan memperluas jaringan destinasi internasionalnya. Langkah ini diperkirakan akan semakin meningkatkan tekanan terhadap maskapai lain, termasuk Singapore Airlines.
Analisis dan Proyeksi Industri Penerbangan
Para analis industri memperkirakan bahwa tren persaingan ini akan berlanjut selama beberapa bulan ke depan. Maskapai-maskapai besar akan terus bersaing dalam merebut pangsa pasar penerbangan internasional, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi harga bahan bakar.
Situasi ini menuntut maskapai untuk lebih inovatif dan efisien agar mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan yang semakin ketat.
Sementara itu, laba bersih Singapore Airlines mencapai 52 juta dollar Singapura atau setara sekitar Rp 668,8 miliar dibandingkan estimasi 181,47 juta dollar Singapura atau setara sekitar Rp 2,3 triliun. Laba bersih Singapore Airlines untuk semester I 2025 juga turun menjadi 239 juta dollar Singapura atau setara sekitar Rp 3,073 triliun, turun 67,8 persen dari tahun sebelumnya, kata maskapai itu. Pendapatan bunga pada kuartal II 2025 turun 42 juta dollar Singapura karena saldo kas yang lebih rendah dan pemotongan suku bunga.













